Mengajar di Jerman, Dosen ITB Bawa Wajah Lanskap Media Indonesia ke RheinMain University

oleh -14 Dilihat
Dr. N. Nurlaela Arief, MBA., IAPR. bersama mahasiswa program International Media Management, RheinMain University of Applied Sciences, Wiesbaden, Jerman, dalam kegiatan International Guest Lecturer (2025). (Dok. pribadi)
Dr. N. Nurlaela Arief, MBA., IAPR. bersama mahasiswa program International Media Management, RheinMain University of Applied Sciences, Wiesbaden, Jerman, dalam kegiatan International Guest Lecturer (2025). (Dok. pribadi)

LIPUTAN BANDUNG – Institut Teknologi Bandung kembali menunjukkan kiprahnya di tingkat internasional melalui kontribusi akademik dosen di luar negeri. Menjembatani pemahaman komunikasi lintas budaya, dosen Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) ITB, Dr. N. Nurlaela Arief, MBA., IAPR., yang akrab disapa Ibu Lala, dipercaya menjadi International Guest Lecturer di RheinMain University of Applied Sciences, Wiesbaden, Jerman, selama dua pekan pada 15 November–2 Desember 2025.

Dalam program tersebut, Dr. Lala mengajar pada program Sarjana (S1) International Media Management, sebuah program internasional di bawah Faculty of Design, Computer Science, and Media.

RheinMain University berlokasi di Wiesbaden, sekitar 30 menit dari Frankfurt dan dikenal sebagai universitas terapan yang mengedepankan pendekatan pembelajaran berbasis praktik dan lintas disiplin.

Baca Juga: Gaya Persuasif Guru Menghadapi Peralihan GEN Z ke GEN ALPHA

Persiapan Matang di Balik Penugasan

Keikutsertaan Dr. Lala dalam program ini tidak diperoleh secara instan. Kesempatan tersebut berawal dari jejaring akademik internasional yang kemudian berlanjut ke proses seleksi resmi oleh pihak kampus di Jerman. Melalui rekomendasi akademik, Dr. Lala diajukan mengisi posisi Visiting Lecturer di Faculty of Design, Computer Science, and Media.

Proses seleksi yang dijalani ini ketat. Dr. Lala menyusun dan mengajukan silabus perkuliahan, merancang metode pengajaran yang interaktif, serta mengirimkan video simulasi mengajar sebagai bagian dari seleksi penilaian kemampuan.

“Program ini sebenarnya dirancang untuk empat minggu. Namun, karena tanggung jawab di tanah air, jadwal pengajaran dipadatkan menjadi dua minggu yang sangat intensif,” ujarnya.

Membedah Lanskap Media Indonesia di Kelas Multinasional

Kelas International Media Management diikuti oleh mahasiswa dari berbagai negara, tidak hanya Jerman, tetapi juga Prancis, Maroko, serta negara-negara Eropa lainnya.

Materi perkuliahan mencakup Intercultural Corporate Communication, Corporate Diplomacy, dan International Media Management dengan fokus pada media management, media economics, media relations, serta pemetaan lanskap media global.

Salah satu topik yang paling menarik perhatian mahasiswa adalah pembahasan mengenai lanskap media di Indonesia.

Di hadapan kelas multinasional, Dr. Lala memaparkan keragaman ekosistem media di Indonesia, bagaimana produksi, distribusi, media dikonsumsi dan diregulasi.

Pengaturan media berdasarkan kepemilikan, media yang terafiliasi dengan kepentingan politik, hingga perkembangan media digital yang diakuisisi oleh venture capital juga terkait homeless media.

Topik ini kemudian diperluas dengan diskusi komparatif.

Mahasiswa diminta membandingkan struktur kepemilikan media, dan bagaimana dinamika industri media di Indonesia dengan kondisi di Eropa dan Amerika Serikat, negara-negara Asia lainnya sebagai latihan analisis perbandingan antar negara.

Perbedaan Budaya Akademik: Low Context dan High Context

Pengalaman mengajar di Jerman memberikan perspektif baru bagi Dr. Lala mengenai perbedaan budaya akademik. Mahasiswa Eropa cenderung menganut low-context communication, yaitu menyampaikan pendapat/kritik dan ketidaksetujuan secara langsung dan eksplisit.

Hal ini berbeda dengan mahasiswa Indonesia yang lebih terbiasa dengan high-context communication, pesan kerap disampaikan secara implisit dan penuh pertimbangan sosial.

“Mahasiswa di Jerman sangat to the point. Mereka tidak ragu bertanya, mengoreksi, atau meminta kejelasan, termasuk soal metode penilaian sendiri,” katanya.

Selain itu, sistem pembelajaran di RheinMain University sangat menekankan student-centered learning.

Sesi perkuliahan satu arah dibatasi maksimal hanya satu jam, dilanjutkan dengan diskusi, kerja kelompok, serta jeda istirahat singkat (coffee break) untuk menjaga fokus dan efektivitas belajar mahasiswa.

“Mahasiswa di sana sangat menghargai waktu dan keterbukaan. Jika mereka merasa lelah, mereka akan menyampaikannya secara langsung. Namun yang luar biasa adalah antusiasme mereka ketika diberi tantangan,” ujarnya.

Salah satu pengalaman paling berkesan adalah saat mahasiswa diminta membuat podcast sebagai tugas akhir.

Tantangan ini cukup besar mengingat budaya konsumsi media dan produksi media digital di Jerman relatif lebih tertutup dibandingkan Indonesia.

Namun, hasilnya melampaui ekspektasi. Dalam waktu hanya tiga hari, mahasiswa mampu memproduksi podcast berbasis teori media dengan pembagian peran yang jelas, mulai dari host, penulis naskah, hingga produser.

Beberapa kelompok bahkan mengangkat isu-isu global aktual dengan pendekatan jurnalistik yang matang.

“Awalnya mereka ragu, tetapi hasil akhirnya sangat baik. Di situlah saya merasa metode pembelajaran ini benar-benar berhasil,” ujarnya.

Refleksi bagi ITB dan Peluang Kolaborasi Global

Pengalaman mengajar di Jerman memberikan banyak pelajaran yang dapat diadaptasi di ITB terutama terkait penyesuaian metode pengajaran dengan karakter mahasiswa, pengelolaan kelas intensif, serta pentingnya interaksi dan jeda dalam proses pembelajaran.

Di sisi lain, kehadiran dosen ITB sebagai pengajar di kampus internasional turut memperkuat faculty reputation ITB di tingkat global, yang menjadi salah satu indikator penting dalam pemeringkatan universitas dunia.

Program ini juga membuka peluang kerja sama yang lebih luas, baik secara personal antar-dosen maupun secara kelembagaan.

Diskusi awal telah dilakukan untuk potensi kolaborasi riset, team teaching, hingga pengembangan program pertukaran mahasiswa serta summer atau winter course antara ITB dan RheinMain University.

“Koneksi ini diharapkan dapat berkembang menjadi kerja sama kelembagaan yang lebih formal. Tidak hanya bagi dosen, tetapi juga membuka peluang internasional bagi mahasiswa ITB di masa depan,” tuturnya.

Melalui pengalaman ini, ITB kembali menegaskan perannya sebagai institusi pendidikan tinggi yang aktif berkontribusi di ranah global, sekaligus membawa praktik-praktik baik dari internasional untuk memperkaya ekosistem pembelajaran di dalam negeri.