24 Orang Laporkan Gejala Usai Makan di 88 Seoul Bandung, Dinkes Lakukan Investigasi

oleh -7 Dilihat
Sebanyak 24 orang melaporkan gejala setelah makan di 88 Seoul 23 Paskal Bandung. Dinkes masih menyelidiki dugaan keracunan makanan.
Sebanyak 24 orang melaporkan gejala setelah makan di 88 Seoul 23 Paskal Bandung. Dinkes masih menyelidiki dugaan keracunan makanan.

LIPUTAN BANDUNG – Kasus dugaan keracunan makanan yang dikaitkan dengan restoran 88 Seoul di 23 Paskal Bandung masih ditelusuri Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung. Sampai Selasa, 6 Oktober 2026 sore, tercatat 24 laporan kasus telah diterima.

Puluhan laporan tersebut masuk melalui sejumlah jalur, mulai dari puskesmas hingga masyarakat yang menghubungi kanal media sosial resmi Dinkes Kota Bandung. Jumlah kasus masih memungkinkan bertambah karena proses pendataan belum selesai.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kota Bandung, Dewi Primasari, mengatakan tim telah turun langsung untuk melakukan investigasi. Petugas mendatangi restoran sekaligus menghubungi konsumen yang melaporkan mengalami gangguan kesehatan.

Baca Juga: Densus 88 Geledah Kontrakan di Antapani Bandung, Sejumlah Barang Diamankan

Dari informasi sementara, keluhan muncul dengan jeda waktu yang berbeda setelah konsumen mengonsumsi makanan. Gejala tercepat dilaporkan sekitar dua jam setelah makan, sementara gejala paling lambat muncul sekitar 12 jam kemudian.

Keluhan yang dilaporkan meliputi sakit perut, mual, muntah dan diare.

Dinkes juga melakukan pemeriksaan terhadap aspek kesehatan lingkungan restoran. Pemeriksaan tersebut mencakup kondisi tempat usaha, peralatan yang digunakan, bahan makanan dan penerapan SOP dalam proses pengolahan makanan.

Hasil pemeriksaan awal menunjukkan masih terdapat beberapa hal yang perlu diperbaiki dari sisi higiene dan sanitasi.

Penataan bahan makanan menjadi salah satu catatan. Bahan makanan segar dan bahan kering perlu diatur dengan lebih baik. Dinkes juga meminta agar bahan makanan tidak ditempatkan berdekatan dengan bahan kimia, seperti cairan pembersih.

Selain itu, penerapan sistem FIFO dan FEFO dalam penyimpanan bahan makanan juga menjadi perhatian. Penerapan kedua sistem tersebut dinilai perlu dibuat lebih jelas dalam pengelolaan bahan makanan di restoran.

Dinkes turut mengingatkan pekerja yang menangani makanan agar memperhatikan perlindungan diri. Penggunaan masker dan hair net menjadi bagian dari rekomendasi yang disampaikan kepada pihak restoran.

Menurut Dinkes, kondisi restoran yang tidak terlalu luas juga menjadi alasan perlunya dilakukan penataan kembali agar aktivitas pengolahan dan penyimpanan bahan makanan dapat berlangsung lebih tertib.

Rekomendasi perbaikan telah disampaikan kepada pengelola 88 Seoul. Pemantauan selanjutnya akan dilakukan bersama puskesmas dengan intensitas lebih tinggi karena restoran tersebut sedang dikaitkan dengan laporan dugaan keracunan.

Investigasi masih menghadapi keterbatasan karena pihak restoran tidak menyimpan sampel makanan. Kondisi tersebut membuat pemeriksaan sampel sebagai salah satu bagian investigasi belum dapat dilakukan.

Sementara itu, pihak 88 Seoul telah merespons keluhan konsumen yang ramai diperbincangkan di media sosial. Restoran menyatakan akan memprioritaskan penanganan dan memberikan bantuan kepada pelanggan yang terdampak.

Restoran tersebut juga memutuskan menghentikan sementara operasional pada 7 dan 8 Oktober 2026.

Dugaan keracunan makanan ini sebelumnya ramai setelah sejumlah pengguna Threads mengunggah pengalaman mereka usai makan di 88 Seoul. Beberapa mengaku mengalami mual, diare hingga demam tinggi dan harus mendapatkan perawatan di rumah sakit.

Para pengguna media sosial tersebut menyebut mengunjungi restoran pada sekitar 2 hingga 4 Oktober 2026.

Dinkes Kota Bandung mengimbau masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan setelah makan di restoran tersebut agar segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Laporan juga dapat disampaikan kepada puskesmas atau melalui kanal resmi Dinkes untuk membantu proses penelusuran kasus.