LIPUTAN BANDUNG – Munas IMA 2026 di Bandung menjadi momentum bagi Pemerintah Kota Bandung untuk memperkuat posisi kota sebagai destinasi bisnis dan konvensi. Wali Kota Bandung Muhammad Farhan membidik investasi pembangunan gedung konvensi berkapasitas minimal 10.000 orang guna mendorong pertumbuhan industri Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE). Namun, realisasi pembangunan fasilitas berskala besar tersebut bergantung pada kemampuan Bandung membuktikan tingginya permintaan pasar kepada calon investor.
Munas IMA 2026 di Bandung menjadi momentum bagi Pemerintah Kota Bandung untuk memperkuat posisi kota sebagai destinasi bisnis dan konvensi. Wali Kota Bandung Muhammad Farhan membidik investasi pembangunan gedung konvensi berkapasitas minimal 10.000 orang guna mendorong pertumbuhan industri Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE). Namun, realisasi pembangunan fasilitas berskala besar tersebut bergantung pada kemampuan Bandung membuktikan tingginya permintaan pasar kepada calon investor.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, peluang investasi gedung konvensi perlu didukung oleh permintaan pasar yang kuat. Menurutnya, investor membutuhkan bukti bahwa Bandung memiliki potensi penyelenggaraan kegiatan MICE dalam jumlah besar dan berkelanjutan.
Hal tersebut disampaikan Farhan saat menghadiri Musyawarah Nasional (Munas) Indonesia Marketing Association (IMA) di El Hotel Bandung, Sabtu, 24 Oktober 2026. Momentum ini dinilai dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan potensi Bandung kepada pelaku bisnis dan profesional pemasaran dari berbagai daerah.
Farhan menilai Bandung telah memiliki sejumlah fasilitas pendukung untuk mengembangkan industri MICE, mulai dari transportasi, perhotelan, akomodasi, hingga restoran. Namun, kapasitas tempat penyelenggaraan konvensi berskala besar masih menjadi pekerjaan rumah.
“Ini adalah sebuah bentuk nyata bahwa Kota Bandung itu memiliki berbagai macam penunjang untuk MICE atau Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition. Tapi masalahnya adalah kapasitas kita belum cukup besar,” ujar Farhan.
Permintaan MICE Jadi Kunci Menarik Investor
Menurut Farhan, pembangunan gedung konvensi dengan kapasitas minimal 10.000 orang memerlukan investasi besar. Karena itu, pemerintah perlu mendorong lebih banyak kegiatan bisnis, pertemuan, dan pameran agar investor melihat adanya peluang pasar yang menjanjikan.
Ia menegaskan, tingginya permintaan menjadi salah satu faktor penting sebelum investasi fasilitas konvensi berskala besar dapat direalisasikan.
“Nah, untuk membangun itu kita tentu harus membuktikan dulu kepada para investor bahwa tingkat permintaan untuk MICE di Kota Bandung itu harus tinggi dulu. Baru mereka akan masuk untuk investasi,” katanya.
Rencana pembangunan fasilitas tersebut, lanjut Farhan, telah menjadi bagian dari pembicaraan bersama Gubernur Jawa Barat. Pemerintah Kota Bandung ingin mendorong terwujudnya gedung konvensi yang mampu menampung sedikitnya 10.000 peserta.
Kehadiran fasilitas tersebut diharapkan dapat memperluas pilihan lokasi untuk penyelenggaraan konferensi, pameran, pertemuan perusahaan, hingga acara bisnis berskala nasional dan internasional.
Selama ini, kegiatan MICE memiliki keterkaitan erat dengan berbagai sektor ekonomi. Peserta acara membutuhkan kamar hotel, transportasi, makanan dan minuman, hingga layanan pendukung lainnya. Kondisi tersebut membuka peluang peningkatan aktivitas usaha ketika Bandung mampu mendatangkan lebih banyak penyelenggaraan acara.
Namun, pengembangan pasar MICE juga membutuhkan promosi yang konsisten, pemetaan kebutuhan penyelenggara acara, serta kesiapan fasilitas untuk menampung peserta dalam jumlah besar.
IMA Nilai Bandung Punya Modal Infrastruktur
Presiden IMA Pusat Suparno Djasmin menilai Bandung memiliki fasilitas yang memadai untuk mendukung penyelenggaraan rapat dan konvensi. Ketersediaan transportasi, hotel, akomodasi, dan restoran menjadi modal penting bagi kota ini untuk menarik kegiatan profesional.
“Saya kira Bandung memiliki fasilitas yang sangat baik untuk bisa kami melakukan rapat maupun konvensi. Saya kira infrastruktur, transportasi, hotel, dan juga akomodasi dan restoran dan semua kebutuhan daripada untuk dilakukannya meeting yang baik itu tersedia di Bandung,” tutur Suparno.
Meski demikian, penguatan fasilitas konvensi berkapasitas besar dapat menjadi langkah lanjutan untuk meningkatkan daya tarik Bandung di pasar MICE.
Farhan juga berharap jejaring anggota IMA dapat membantu memperluas pemasaran Kota Bandung sebagai destinasi bisnis. Promosi tersebut diharapkan menjangkau pasar nasional hingga internasional, sehingga Bandung tidak hanya dikenal sebagai tujuan wisata, tetapi juga sebagai lokasi pertemuan dan kegiatan profesional.
“Saya sangat berharap bahwa para ahli marketing ini nanti akan bermitra dengan Kota Bandung untuk pengembangan, memasarkan Kota Bandung itu ke seluruh Indonesia bahkan kalau perlu ke seluruh dunia,” ungkap Farhan.
Munas IMA Hadirkan UMKM Awards dan Pameran Produk Lokal
Selain membahas pengembangan industri MICE, rangkaian Munas IMA 2026 turut menghadirkan kegiatan yang membuka peluang bagi pelaku usaha lokal.
Salah satunya adalah UMKM Awards 2026, yang akan memberikan penghargaan kepada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah terbaik dari berbagai daerah di Indonesia.
IMA juga menyiapkan pameran UMKM selama tiga hari di Braga City Walk, Kota Bandung. Melalui kegiatan ini, pelaku usaha berkesempatan memperkenalkan produk kepada konsumen yang lebih luas sekaligus membangun jaringan dan menjajaki peluang kerja sama bisnis.
Keterlibatan UMKM menjadi salah satu aspek penting dalam pengembangan MICE. Semakin banyak kegiatan yang berlangsung di Bandung, semakin terbuka pula kesempatan bagi pelaku usaha lokal untuk menawarkan produk, kuliner, suvenir, dan berbagai layanan kepada peserta acara.
Agenda Munas juga mencakup *studium generale* di Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB). Kegiatan ini akan menghadirkan Hermawan Kartajaya, Honorary Founding Chairman IMA sekaligus pendiri dan pimpinan MarkPlus, Inc.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, IMA juga berencana menyumbangkan 100 bibit pohon Tabebuya kepada Pemerintah Kota Bandung. Sumbangan ini menjadi bagian dari kelanjutan program penghijauan yang telah berjalan selama empat tahun.
Perkuat Kolaborasi untuk Mendorong Ekonomi Bandung
IMA memiliki jaringan sebanyak 103 chapter dengan lebih dari 9.200 anggota di seluruh Indonesia. Jaringan tersebut berpotensi menjadi salah satu sarana untuk memperluas promosi Bandung kepada kalangan profesional, pengusaha, dan pelaku industri.
Bagi Pemkot Bandung, tantangan selanjutnya adalah mengubah peluang kolaborasi tersebut menjadi peningkatan jumlah kegiatan MICE yang berkelanjutan. Langkah ini diperlukan agar rencana pembangunan gedung konvensi berkapasitas 10.000 orang didukung kebutuhan pasar yang jelas.
Pengembangan industri MICE juga perlu berjalan seiring dengan kesiapan infrastruktur, promosi destinasi, dan keterlibatan pelaku usaha lokal. Dengan begitu, manfaatnya tidak hanya dirasakan penyelenggara acara dan sektor perhotelan, tetapi juga transportasi, kuliner, perdagangan, serta UMKM.
Jika permintaan pasar terus tumbuh dan peluang investasi dapat direalisasikan, Bandung berpotensi memperkuat posisinya sebagai destinasi bisnis sekaligus memperluas sumber pertumbuhan ekonomi daerah.



