LIPUTAN BANDUNG – Pesatnya perkembangan teknologi dan perubahan sosial di kota-kota besar membuat banyak guru merasakan perbedaan yang cukup signifikan dalam karakter siswa saat ini. Generasi Gen Z dan Gen Alpha tumbuh dalam lingkungan digital yang serba cepat, sehingga cara mereka berpikir, belajar, dan merespons sesuatu berbeda dari generasi sebelumnya. Kebiasaan berinteraksi melalui dunia maya juga mempengaruhi kemampuan mereka dalam bersosialisasi secara langsung. Karena itu, tantangan yang muncul bukan semata-mata berasal dari siswa, tetapi juga dari bagaimana sistem pendidikan dan pendidik beradaptasi.
Guru sebagai tenaga pengajar kini dituntut tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga memahami karakteristik generasi yang mereka hadapi serta mampu membangun komunikasi yang efektif. Dalam konteks inilah gaya persuasif guru menjadi sangat penting, yakni kemampuan untuk mempengaruhi siswa secara positif, membangkitkan minat belajar, dan menciptakan suasana kelas yang kondusif. Dengan gaya persuasif yang tepat, pembelajaran dapat diterima lebih baik, meskipun guru menghadapi dinamika perilaku siswa yang beragam.

Baca Juga: Gaya Kepemimpinan Mahasiswa Gen-Z:Soft-Spoken atau Bossy?
Di tahap ini, guru perlu menjadi pembimbing yang mampu berdialog dan mengarahkan tanpa memaksa. Sementara itu, siswa SMA yang sudah lebih matang secara berpikir membutuhkan guru yang dapat menjadi fasilitator dan rekan diskusi. Mereka lebih menerima pembelajaran yang rasional, relevan, dan berbasis fakta.
Dengan memahami karakter siswa tiap jenjang, guru masa kini dapat menyesuaikan gaya mengajar agar lebih efektif dan bermakna.
Dengan berbagai tantangan yang ada, kesalahan dalam penggunaan gaya persuasif yang tidak tepat dapat membuat siswa tidak menerima pembelajaran dengan maksimal. Akan tetapi, sebuah sekolah terkenal di Kota Bandung telah berhasil menciptakan lingkungan yang seimbang dalam mencocokan sifat murid dengan gaya persuasif guru yang tepat saat mengajar. Sekolah ini terkenal dalam kemampuan akademik siswa-siswanya dan kualitas pengajar yang bagus. Dengan demikian, Kami melakukan mini riset terhadap sekolah tersebut.
Mini riset ini bertujuan untuk melihat apa saja gaya persuasif guru saat mengajar di sekolah terkenal di Bandung. Penelitian ini dilakukan terhadap 30 guru di sekolah tersebut, para guru yang terlibat berusia antara 25–40 tahun dan mengajar di jenjang SD, SMP, dan SMA, terdiri 7 orang laki-laki dan 23 perempuan dengan rentan waktu lama mengajar paling cepat 1 tahun dan paling lama 11 tahun.
Baca Juga:Telkom University Dorong Budaya Profesional Hospitality melalui Pelatihan Grooming dan Gesture
Penelitian ini menggunakan model Influencing Styles Assessment dari Redkite Performance Coaching. Dalam model tersebut menilai gaya Persuasif guru yang terdiri dari sembilan aspek mulai dari gaya berbasis nilai, tujuan, kebutuhan, visi, logika, ketegasan, otoritas formal, edukasi, hingga dukungan. Keseluruhan aspek ini dirancang untuk menilai bagaimana seseorang mempengaruhi orang lain. Perlu diingat bahwa setiap guru dapat memiliki lebih dari satu gaya persuasif.
Berdasarkan hasil assessment, Gaya persuasif terbesar yang dimiliki oleh para guru di sekolah terkenal di Kota Bandung adalah gaya berbasis dukungan atau Supporting Style dengan jumlah 14 orang. Guru dengan gaya persuasif supporting style memberikan dukungan emosional, membangkitkan kepercayaan diri siswa, dan menciptakan lingkungan yang aman untuk siswa berekspresi.
Mereka mendengarkan dengan cara empati, memberi semangat, dan mendorong siswa untuk berani mencoba tanpa takut gagal. Kebanyakan guru dengan gaya ini adalah guru yang berusia 25-30 Tahun dengan lama mengajar selama 3-11 tahun. Guru dengan gaya persuasif ini cenderung ditemukan pada jenjang SMP dan SMA.
Dengan jumlah kedua terbanyak, gaya persuasif guru selanjutnya adalah gaya persuasif berbasis logika atau rational style dengan total 10 guru. Guru dengan gaya ini memiliki pendekatan yang logis, argumentatif, dan berbasis data. Mereka membimbing siswa dengan pendekatan yang lebih rasional, seperti menjelaskan alasan di balik konsep, mengajarkan cara berpikir kritis, dan mengasah kemampuan dalam menilai informasi secara objektif. Guru dengan gaya ini kebanyakan adalah guru dengan usia 25-30 Tahun dengan lama mengajar selama 5-11 tahun.
Selanjutnya ada gaya persuasif berbasis tujuan atau goal-driven style, dimana guru membantu siswa menentukan target belajar yang realistis dan memberi arahan langkah-langkah bagaimana untuk mencapainya. Guru dengan gaya ini ada sebanyak 9 orang yang berusia 25-30 tahun dengan lama mengajar selama 3-5 tahun. Gaya persuasif ini kebanyakan dapat ditemukan pada guru yang mengajar di jenjang SD.
Beberapa gaya persuasif lainnya yang ditemukan pada penelitian ini adalah value- driven style sebanyak 7 orang, gaya ini menanamkan pada nilai-nilai moral dan kepercayaan. Mereka mengajar bukan hanya dengan kepala, namun dengan hati dan keyakinan. lalu educating style dan visioning-style dengan jumlah guru yang sama yaitu sebanyak 8 orang. Educating style mengajak siswa untuk memahami konsep atau pelajaran secara mendalam, bukan hanya menghafal.
Visioning-style menginspirasi siswa untuk bermimpi lebih jauh, agar dapat memvisualisasikan masa depan yang lebih baik. Lalu yang terakhir, dengan jumlah guru paling sedikit yaitu 5 orang adalah need-fulfillment style. Gaya persuasif ini berputar pada kebutuhan siswa, yang mana guru akan menyesuaikan dirinya tergantung dengan kebutuhan siswanya.
Dari hasil penelitian ini, setiap guru memiliki kecenderungan gaya persuasif yang berbeda. Ditemukan pula banyak guru dengan gaya persuasif lebih dari satu, bahkan ada yang memiliki 3-4 gaya persuasif sekaligus. Biasanya guru dengan banyak gaya persuasif adalah guru dengan pengalaman mengajar yang sudah cukup lama.
Hal ini menunjukkan bahwa guru bukan sekedar profesi, tetapi proses menjadi pengaruh yang hidup. Mereka tidak hanya membentuk kecerdasan, tapi membangun cara berpikir, cara memutuskan pendapat, hingga cara bertanggung jawab.
Meskipun penulis sudah melakukan penelitian terhadap gaya mempengaruhi guru dalam mengajar, hasil ini tidak dapat menggeneralisasi gaya mempengaruhi guru pada instansi lainnya.
Akan tetapi, penulis harap dengan adanya penelitian ini, para guru dan calon guru dapat belajar dan menambah pengetahuan akan peran guru dalam membimbing dan mengajar para siswa dengan gaya persuasif yang benar.
Penulis: Enong, Fadlillah Syaikhani A, Thiram Ardyani





