LIPUTAN BANDUNG – Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi (PSI) Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Padjadjaran (Unpad) menggelar kegiatan Pengabdian Pada Masyarakat Berdampak Unpad bertema “Penguatan Literasi Kesehatan, Lingkungan, dan Pengetahuan Lokal Berbasis Komunitas untuk Mendukung Pencapaian SDGs di Kabupaten Sumedang”. Kegiatan berlangsung pada Selasa (13/10/2026) di Kantor Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Sumedang.
Kegiatan ini menyasar perangkat Desa Cimanggung dan melibatkan tokoh adat/sesepuh, unsur pemuda, serta perwakilan Bapperida. Peserta diajak mendokumentasikan pengetahuan dan tradisi lokal, memahami potensi pangan darurat lokal untuk mitigasi bencana, serta menjadikan pengetahuan tersebut bahan pertimbangan dalam pembangunan desa dan daerah.

Dalam sambutannya, Ketua Program Studi PSI Fikom Unpad menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan mengajak berbagai pihak membangun Desa Cimanggung, dengan harapan hasilnya bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Baca Juga: BNI dan Unpad Perluas Kolaborasi Pendidikan, Digitalisasi hingga Alumni
Kepala Bidang Riset dan Inovasi Bapperida Kabupaten Sumedang mengapresiasi Unpad yang menghadirkan kegiatan di bidang arsip, perpustakaan, dan sains bagi masyarakat Sumedang, lalu meresmikan pembukaan kegiatan. Kedua pihak kemudian menyerahkan plakat dan sertifikat sebagai simbol kemitraan.
Materi pertama, “Panduan Pemberdayaan Masyarakat Desa Cimanggung melalui Dokumentasi Digital Lingkungan Hidup”, dibawakan Ketua Pelaksana PKM, Dr. Kusnandar, M.Si. Ia menekankan bahwa pengetahuan lokal, terutama tradisi lisan, rapuh dan dapat hilang bila tidak didokumentasikan.
Peserta diperkenalkan empat langkah dasar, yaitu memilih topik, mewawancarai warga, mendokumentasikan, dan merangkai cerita, termasuk teknik merekam menggunakan telepon pintar. Objek dokumentasinya mencakup tanaman, lingkungan, praktik, dan orang. Ia mengajak para sesepuh berbagi informasi tentang desanya agar pembangunan selanjutnya berpijak pada pengetahuan lokal.
Materi kedua, “Resiliensi Pangan Berbasis Tradisi: Studi Mitigasi Bencana melalui Sistem Pangan Darurat Lokal”, disampaikan Samson Jayawinata CMS, M.I.Kom. Ia menyoroti bahwa pangan darurat selama ini identik dengan pangan siap saji sehingga belum mengakomodasi pangan berbasis nabati, dan dukungan regulasinya perlu ditingkatkan.
Ia memaparkan peta sumber pangan darurat lokal yang terdiri atas humbut, boros, buah, lalab, beuti, serta olahan manis dan asin, juga ritus tradisi sebagai media komunikasi, antara lain ngalaksa, hajat golong, bubur suro, ngarot, hajat laut, seren taun, hajat lembur, dan rarangken pare. Menurutnya, informasi kebencanaan perlu dikemas lewat media sosial agar sampai kepada generasi muda.
Narasumber dari Pemerintah Kabupaten Sumedang Moh. Budi Akbar, S.Sos. Kepala Bidang Kebudayaan pada Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga menegaskan bahwa kebudayaan tidak sebatas kesenian, tetapi juga tradisi leluhur yang menjaga harga diri bangsa. Budaya, katanya, menjadi “kendaraan” untuk menyampaikan adab dan norma, sehingga memerlukan dukungan komunitas budaya serta dasar ilmiah, termasuk saat mengusulkan warisan budaya ke tingkat provinsi.
Ia mencontohkan Cigentong yang menjunjung tradisi luhur dan menghormati alam, Ganeas yang membatasi perumahan demi mempertahankan pangan darurat, serta tradisi lisan Poyok Ungkal di Desa Ungkal yang masih dilestarikan hingga kini.
Materi terakhir, “Diagnosis Pembangunan Kabupaten Sumedang”, dipaparkan oleh Ellan Rohelan Nagari, S.Si., M.Tr.I.P Kepala Bidang Riset dan Inovasi Bapperida. Ia menjelaskan arah jangka panjang pembangunan Sumedang yang mengusung MANDALA (Maju, Agamis, Mandiri, Adil, dan Berkelanjutan) melalui lima tahapan RPJMD, dengan fokus pada penguatan infrastruktur, sumber daya manusia, dan reformasi birokrasi.
Dikelilingi enam perguruan tinggi, Sumedang dinilai semakin percaya diri memajukan budaya daerah lewat kolaborasi. Ia juga mengingatkan perlunya memastikan manfaat pembangunan lebih merata. Untuk mengukur pemahaman peserta, panitia melaksanakan pre-test dan post-test di sela pemaparan materi.
Pada sesi diskusi, Kepala Desa Cimanggung menyampaikan bahwa pangan buhun seperti oyek dan gatot kerap dianggap makanan orang miskin sehingga tergerus zaman. Ia bertanya bagaimana agar pangan tersebut dapat naik kelas dan bernilai lebih.
Dr. Kusnandar menjawab bahwa keunikan bentuk, nama, dan rasa dapat menjadi nilai jual, tetapi yang terpenting adalah menyelamatkan pengetahuannya melalui dokumentasi.
Ia menambahkan, kajian teknologi pangan dapat dikerjasamakan dengan Unpad. Perwakilan Pemerintah Kabupaten Sumedang menyebut pengembangan kuliner tradisional membutuhkan narasi yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Kepala Bidang Riset dan Inovasi Bapperida menekankan pentingnya penguatan branding produk, sedangkan Samson Jayawinata menyatakan dukungan dari sisi industri pangan.
Kegiatan ditutup dengan penyerahan sertifikat kepada para narasumber dan foto bersama seluruh peserta.
Penyelenggaraan PKM ini sejalan dengan upaya mendukung pencapaian SDGs di Kabupaten Sumedang melalui penguatan pengetahuan lokal berbasis komunitas.






