Kamis, Mei 30, 2024
BerandaNASIONALGunung Semeru Muntahkan Abu Vulkanik Setinggi 900 meter, Masyarakat Diminta Waspada

Gunung Semeru Muntahkan Abu Vulkanik Setinggi 900 meter, Masyarakat Diminta Waspada

LIPUTAN BANDUNG-Gunung Semeru, yang terletak di Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur, meletus pada hari ini, memuntahkan abu vulkanik setinggi sekitar 900 meter di atas puncak gunung, yang merupakan gunung api tertinggi di Pulau Jawa.

Menurut Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Sigit Rian Alfian, erupsi terjadi pukul 06.19 WIB. Kolom abu terlihat berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal mengarah ke barat. Letusan ini tercatat oleh alat seismograf dengan amplitudo maksimum 22 milimeter dan durasi 125 detik.

Masyarakat diimbau untuk menghindari aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 13 kilometer dari pusat erupsi Gunung Semeru.

Baca Juga: Antisipasi Kecelakaan, Pemkot Bandung Terus Akselerasi Perapian Kabel

Di luar jarak tersebut, aktivitas juga tidak diperbolehkan dalam radius 500 meter dari tepi sungai sepanjang Besuk Kobokan, karena berpotensi terdampak perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 kilometer dari puncak Gunung Semeru.

Selain itu, masyarakat diminta untuk tidak beraktivitas dalam radius 5 kilometer dari puncak Gunung Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu.

Awan panas, guguran lava, dan lahar perlu diwaspadai di sepanjang aliran sungai atau lembah yang berhulu di puncak Gunung Semeru, terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan.

Pos Pengamatan Gunung Semeru mencatat aktivitas seismik pada tanggal 28 Februari 2024, dengan 77 kali gempa erupsi, 7 kali gempa guguran, 18 kali gempa hembusan, 2 kali gempa harmonik, dan 4 kali gempa tektonik jauh.

PVMBG menyatakan bahwa kondisi Gunung Semeru saat ini tidak baik-baik saja karena menyimpan potensi bahaya mulai dari lontaran material erupsi, guguran lava pijar, awan panas, hingga banjir lahar.

Mereka terus memantau secara visual dan instrumental dari dua pos pengamatan di Desa Sumber Wuluh, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, dan di Desa Argosuko, Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang.

RELATED ARTICLES

Most Popular