Selasa, Mei 28, 2024
BerandaTRAVELINGSelamat Kepada Andy Dwi Tjahyo sebagai Pemenang Utama 1st Grey Annual Award...

Selamat Kepada Andy Dwi Tjahyo sebagai Pemenang Utama 1st Grey Annual Award 2024, Kompetisi Seni Rupa Inisiasi Grey Art Gallery

LIPUTAN BANDUNG- Setelah melalui proses seleksi Grey Art Gallery mengumumkan para pemenang Grey Annual Award 2024, sebuah kompetisi seni rupa yang diinisiasi oleh Grey Art Gallery.

Kompetisi Grey Art Award ini berfokus pada ekspresi artistik dengan penekanan pada karya monokromatik yang mengacu pada penggunaan variasi tingkat kecerahan atau kegelapan dalam skala abu-abu atau hitam-putih.

Meski dibatasi dalam kerangka monokromatik, namun kami berharap para seniman yang terlibat mampu untuk membongkar batasan media karya, metode, teknik, bahkan penyajian karya itu sendiri. Hal ini menciptakan peluang eksperimentasi dengan berbagai media dan teknik.
Grey Art Award menawarkan hadiah dan penghargaan bagi seniman dengan karya terbaik. Pada prosesnya, kami menerapkan sistem open call yang memberikan peluang kepada semua seniman untuk berpartisipasi tanpa diskriminasi latar belakang atau reputasi. Inisiatif ini bertujuan memberikan kesempatan kepada seniman pendatang baru yang mungkin belum mendapatkan pengakuan luas atau akses ke platform besar untuk memamerkan karya-karya mereka.

Baca Juga: Hotel De Braga by Artotel Bandung Hadirkan Paket Buka Puasa 2024 dengan Tema Rasa Nusantara Konsep All You Can Eat, Inilah Harga Paketnya

Harapannya, kompetisi ini akan mendorong inovasi dan kreativitas dalam proses penciptaan karya seni, membawa pendekatan segar dan ide-ide baru yang menarik. Lebih dari sekadar sebuah ajang perlombaan, kompetisi ini dirancang untuk memberikan eksposur yang lebih luas kepada seniman-seniman baru, memastikan bahwa karya mereka dapat dinikmati oleh penonton yang lebih besar, termasuk para pelaku medan sosial seni rupa profesional seperti kolektor, kritikus, art dealer, dan galeri.

Dari 805 seniman dan 1290 karya yang diterima,Tim Seleksi yang terdiri dari Rifky ‘Goro’ Effendy (Kurator), Toni Antonius (Seniman), dan Angga Aditya Atmadilaga (Dosen dan Manajer Seni) telah memilih 115 karya terpilih dari 111 seniman untuk masuk pada tahap pameran dan penjurian.

Karya-karya ini menampilkan berbagai karakter dalam gagasan dan garapan dengan tema-tema yang beragam, serta berbagai bentuk visual dan media yang berbeda, menunjukkan aktivitas lintas media yang berkembang pesat dalam seni rupa saat ini.

Berikut daftar Pemenang 1st Grey Annual Award 2024 :

Penghargaan Utama :

Grey Award: Rp 100.000.000, diberikan kepada Andy Dwi Tjahyo, Karya ini memiliki keistimewaan dalam konsepnya yang menggali konsep mimpi sadar atau “Lucid Dream” yang digagas oleh psikiater Frederik (Willem) van Eeden. Dalam lucid dream, seseorang dapat merasakan pengalaman yang dialami pada masa lalu, kadang-kadang disertai dengan perasaan dejavu, namun juga memungkinkan melihat hal-hal yang belum pernah dialaminya sebelumnya.

Dalam representasinya, karya ini menggambarkan lapisan-lapisan mimpi sadar, di mana satu peristiwa dalam mimpi membawa kita pada lokasi peristiwa tersebut beberapa waktu setelahnya. Visual karya ini menggunakan karya Lukis Raden Saleh yang berjudul “Banjir Jawa” sebagai latar belakang yang memanfaatkan gaya romantisme. Dalam penyajiannya, karya ini mengadopsi metode wayang kulit, di mana bayangan dihasilkan di belakang kelir (latar).Objek gambar disusun dengan menggunakan “wrapping plastic” di permukaan lembar akrilik bening. Tumpukan “plastic wrap” ini menciptakan efek gelap-terang yang memperkuat bayangan di latar kertas, menciptakan atmosfer yang memikat dan membingkai konsep mimpi sadar dengan indah dan misterius.

Baca Juga: Clove Hotel Bandung Hadirkan Paket Berbuka Puasa Tahun 2024 dengan Menu Korean Food

Pemanfaatan kualitas dan konsep monokromatik hitam-putih dibangun dengan efektif. sehingga penggunaan skema warna monokromatik hitam-putih mampu menghadirkan suasana yang dramatis, misterius, dan kontemplatif.

Dalam konteks karya ini, penggunaan skema warna hitam-putih menekankan aspek visual dari mimpi sadar yang dijelaskan. Warna hitam dan putih menciptakan kontras yang kuat, menyoroti perbedaan antara kenyataan dan dunia mimpi. Selain itu, skema warna ini juga memperkuat elemen bayangan yang dihasilkan oleh lembaran plastik dan acrylic bening.

Dengan memanfaatkan kualitas dan konsep monokromatik hitam-putih, karya ini berhasil menciptakan atmosfer yang mendalam dan menggugah, serta membawa apresiator pada perjalanan visual dan konseptual yang unik. Dengan demikian, karya ini tidak hanya menghadirkan representasi visual yang menarik, tetapi juga mengajak perenungan akan konsep mengenai alam mimpi dan realitas.

Black Award: Rp 50.000.000, diberikan kepada Maryo Pratama yang menghadirkan karya dengan mengangkat konsep FOMO (Fear of Missing Out) dalam kualitas monokromatik hitam-putih. Pada karya ini, penggunaan kain tile putih yang digambari pigmen hitam sehingga menciptakan kontras yang kuat menyoroti perasaan takut dan kegelisahan yang terkait dengan FOMO.

Penggunaan empat layer kain tile yang digantung secara sejajar dengan potret diri yang menyembunyikan wajahnya di dalam kantong plastik, dilengkapi sarung tinju dengan sikap tangan bertahan dan melawan, menciptakan suasana yang dramatis. Sentuhan jahitan benang bertuliskan “FOMO” menambahkan dimensi artistik dan konseptual pada karya ini, menyampaikan pesan tentang urgensi kesadaran dalam menghadapi dampak negatif dari FOMO.

Melalui karya ini, seniman merenungkan tentang pentingnya menciptakan keseimbangan yang sehat antara dunia maya dan kehidupan nyata, serta pentingnya memilah dan memilih informasi yang dibutuhkan dan tervalidasi. Dengan demikian, karya ini tidak hanya menjadi representasi visual yang kuat, tetapi juga menjadi refleksi yang mengajak penonton untuk merenungkan hubungan mereka dengan teknologi informasi dan media sosial dalam era digital ini.

White Award: Rp 25.000.000, diberikan kepada Dabi Armasa. Karyanya menggambarkan interaksi kompleks antara dunia nyata dan dunia digital yang menghadirkan representasi dioramik. “Virtual Room” , semacam mikrokosmos yang mencerminkan kompleksitas informasi visual yang kita alami setiap hari.

Melalui kolase foto dalam pecahan kecil yang membentuk lingkungan baru, karya ini menyoroti akumulasi informasi visual dalam kehidupan sehari-hari yang menciptakan persepsi tentang dunia di sekitar kita. Setiap “rak” dalam karya ini mewakili suasana yang berbeda, tergantung pada jenis informasi visual yang paling banyak dikonsumsi melalui dunia digital.

Dengan menggunakan nuansa monokromatik hitam-putih, karya ini memberikan kesempatan untuk melihat kompleksitas ini dengan lebih sederhana namun esensial. Objek-objek keseharian seperti kasur, sofa, dan kursi digunakan sebagai simbol dari fakta bahwa permasalahan ini terjadi di dalam ruang personal kita sendiri.

Secara keseluruhan, karya ini mengajak kita untuk merenungkan dampak dari penggunaan teknologi digital terhadap persepsi dan pemahaman kita tentang dunia.

People Choice Award dimenangkan oleh Michelle Jovita yang dipilih dengan jumlah suara sebanyak 24% (79) dari total suara 1844.

Penggunaan material kain mesh dari stocking nilon transparan pada karyanya menciptakan visualisasi yang menarik tentang konsep lapisan spektrum dari karakter yang membangun identitas seorang manusia. Material yang transparan ini mewakili kompleksitas dari setiap individu, di mana setiap lapisan karakter yang membentuk identitas seseorang dapat terlihat namun tetap tidak sepenuhnya terungkap.

Dengan demikian, karya ini mengajak penonton untuk merenungkan betapa kompleksnya seseorang sebagai individu, dan seberapa jauh orang lain dan diri sendiri dapat melihat dan memahami aspek-aspek yang membentuk diri seseorang. Hal ini juga mengingatkan bahwa eksistensi seseorang tidak hanya tergantung pada pengakuan dari orang lain, tetapi juga dari kesadaran diri sendiri tentang identitas dan kompleksitasnya sebagai individu.

Gallerist & Collector Choice : Bandu Darmawan, mendapatkan suara sebanyak 33% (3) dari total keseluruhan suara (10). Karya Bandu mengangkat isu yang relevan dengan zaman digital saat ini, di mana informasi dapat dengan mudah dibuat dan disebarluaskan oleh pengguna sosial media secara anonim. Kehadiran “akun” pengguna sosial media yang tidak bertanggung jawab dapat menciptakan lingkungan yang penuh dengan kebohongan dan manipulasi informasi.

Dalam karya ini, seniman menggunakan animatronik tangan yang bergerak di belakang kain spandex untuk mensimulasikan tangan-tangan yang “jahil”. Meskipun bentuk tangan terlihat, namun identitas siapa yang ada di balik tangan tersebut tetap menjadi misteri. Hal ini mencerminkan bagaimana kehadiran anonimitas dalam dunia digital dapat memengaruhi bagaimana informasi diproduksi dan dipahami oleh masyarakat. Dengan menggunakan nuansa monokromatik, karya ini memberikan kesan yang lebih dramatis dan intens. Warna hitam atau putih yang dominan menciptakan kontras yang kuat, menyoroti ketegangan antara kehadiran anonim di dunia digital dengan kebutuhan akan transparansi dan kejujuran.

Dengan demikian, karya ini mengajak penonton untuk merenungkan tentang pentingnya kehati-hatian dalam menerima informasi yang diperoleh dari sosial media, serta pentingnya untuk selalu memeriksa dan memverifikasi kebenaran informasi sebelum dipercayai atau disebarkan lebih luas.

Malam penghargaan untuk para pemenang dilaksanakan pada 8 Maret 2024. Kami mengucapkan selamat kepada semua pemenang dan terima kasih kepada semua seniman yang telah berpartisipasi dalam kompetisi ini. Program ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan seni rupa dengan melibatkan semua elemen dalam ekosistem seni.

RELATED ARTICLES

Most Popular