LIPUTAN BANDUNG – Sebanyak 51 kader kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Padamukti, Kabupaten Bandung, dibekali pengetahuan dan keterampilan mengenai tidur sehat bagi lanjut usia (lansia). Kegiatan tersebut digelar melalui program pengabdian kepada masyarakat “Kader Peduli Tidur Sehat Lansia: Tidur Berkualitas untuk Lansia Sehat, Aktif, dan Bahagia”, Senin (31/8/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Puskesmas Padamukti, Jalan Panyadap Nomor 64, Desa Panyadap, Kecamatan Solokan Jeruk, Kabupaten Bandung, merupakan kolaborasi STIKep PPNI Jawa Barat, Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI), dan Puskesmas Padamukti.
Sebanyak 51 kader mengikuti rangkaian kegiatan mulai dari pre-test, edukasi, hingga post-test. Edukasi diarahkan agar kader mampu membantu lansia dan keluarga menerapkan kebiasaan tidur sehat, mengenali masalah tidur, serta mengetahui kapan lansia perlu mendapatkan bantuan tenaga kesehatan.

Pengetahuan Kader Menunjukkan Peningkatan
Evaluasi dilakukan melalui pre-test sebelum edukasi dan post-test setelah pemberian materi kepada 51 kader.
Hasil analisis secara deskriptif menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan kader setelah mengikuti edukasi. Rerata skor pengetahuan meningkat dari 12,16 pada pre-test menjadi 13,06 pada post-test.
Selain itu, proporsi kader yang berada dalam kategori pengetahuan baik juga meningkat, dari 66,7 persen sebelum edukasi menjadi 79,6 persen setelah edukasi.
Hasil tersebut menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan pengetahuan kader secara deskriptif setelah mendapatkan edukasi mengenai tidur sehat lansia.
Evaluasi mencakup pemahaman kader mengenai kualitas tidur lansia, sleep hygiene, kebiasaan yang mendukung tidur sehat, faktor yang dapat mengganggu tidur, tanda-tanda gangguan tidur, serta kondisi yang membutuhkan konsultasi dengan tenaga kesehatan.
Kader Dibekali Sleep Hygiene
Edukasi disampaikan oleh Dr. Ns. Nunung Nurhayati, M.Kep. dari STIKep PPNI Jawa Barat dan Hening Pujasari, S.Kp., M.Biomed., M.A.N.P., PhD. dari Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia.
Materi mencakup pentingnya kualitas tidur pada lansia, perubahan pola tidur seiring proses penuaan, sleep hygiene, faktor yang dapat memengaruhi tidur, serta cara mengenali tanda-tanda gangguan tidur.
Para kader mendapatkan berbagai tips yang dapat diteruskan kepada lansia, antara lain menjaga waktu tidur dan bangun secara teratur, membatasi tidur siang, melakukan relaksasi sebelum tidur, serta menciptakan lingkungan tidur yang nyaman dan aman.
Kader juga dibekali pemahaman mengenai kebiasaan yang dapat mengganggu tidur, seperti konsumsi minuman berkafein pada sore atau malam hari, merokok, makan berat menjelang tidur, penggunaan telepon genggam secara berlebihan, serta aktivitas yang membuat lansia sulit rileks sebelum tidur.
Selain itu, edukasi mencakup pentingnya aktivitas fisik, pola makan sehat, serta aktivitas sosial dan emosional dalam mendukung kesehatan lansia.
Bukan Sekadar Menyarankan Lansia untuk Istirahat
Kader juga diajak mengenali tanda-tanda gangguan tidur pada lansia, di antaranya sulit memulai tidur, sering terbangun pada malam hari, bangun terlalu dini, tetap merasa lelah setelah tidur, mengantuk berlebihan pada siang hari, serta mendengkur keras atau mengalami gangguan napas saat tidur.
Pengetahuan tersebut penting agar kader dapat membedakan keluhan tidur yang dapat diberikan edukasi dengan kondisi yang membutuhkan konsultasi lebih lanjut.
Kader diharapkan dapat berperan sebagai edukator, motivator, pendamping, fasilitator, dan penghubung lansia dengan tenaga kesehatan.
Dr. Nunung: Kader Dekat dengan Lansia
Dr. Ns. Nunung Nurhayati, M.Kep. mengatakan kader memiliki posisi strategis karena berinteraksi langsung dengan lansia dan keluarga di masyarakat.
“Kader memiliki posisi yang sangat strategis karena berada dekat dengan masyarakat. Melalui peningkatan pengetahuan mengenai tidur sehat, kami berharap kader dapat membantu lansia dan keluarga memahami bahwa tidur berkualitas merupakan bagian penting dari upaya mempertahankan kesehatan, aktivitas, dan kebahagiaan lansia.”
Menurut Nunung, penguatan kapasitas kader tidak cukup hanya dengan memberikan informasi. Kader juga perlu memiliki kemampuan untuk menyampaikan edukasi secara sederhana, mengenali masalah tidur, dan mengarahkan lansia kepada tenaga kesehatan ketika diperlukan.
Kepala Puskesmas: Kader Jadi Ujung Tombak
Kegiatan tersebut mendapat dukungan dari Kepala Puskesmas Padamukti Hj. Teti Mulyati, SKM., M.M.Kes, bersama tim Puskesmas Padamukti yang terdiri atas Ade Pitra S, Farm., Apt., M.M.Kes, dr. Gita Noviyanti, Anisa Hayati Ningsih, S.Kep., dan Nurwati Ningsih, Amd.Kep.
Menurut Hj. Teti Mulyati, kedekatan kader dengan masyarakat menjadi kekuatan penting dalam menyampaikan pesan kesehatan kepada lansia.
“Kader merupakan ujung tombak yang dekat dengan lansia. Kami berharap setelah mendapatkan edukasi ini, kader bisa membantu mengingatkan lansia untuk menerapkan pola tidur yang sehat, mengenali tanda-tanda gangguan tidur, dan mengarahkan ke Puskesmas bila menemukan keluhan yang perlu ditangani tenaga kesehatan,” ujar Hj. Teti Mulyati, SKM., M.M.Kes.
Ia berharap pengetahuan yang diperoleh kader dapat diteruskan kepada lansia dan keluarga sehingga manfaat kegiatan tidak berhenti pada saat pelatihan.
“Harapannya, edukasi ini tidak berhenti pada kegiatan hari ini. Kader dapat meneruskan informasi kepada lansia dan keluarganya, sehingga semakin banyak lansia yang memahami pentingnya tidur yang sehat dan tahu kapan harus mencari bantuan ke tenaga kesehatan,” tuturnya.
Nining Suningsih: Lebih Tahu Cara Menjelaskan kepada Lansia
Salah seorang kader peserta kegiatan, Nining Suningsih, mengatakan materi yang diberikan membantu kader memahami masalah tidur yang sering dialami lansia.
“Sebelumnya kami tahu bahwa lansia membutuhkan tidur yang cukup, tetapi melalui kegiatan ini kami jadi lebih memahami kebiasaan apa saja yang bisa mengganggu tidur. Jadi, ketika ada lansia yang mengeluhkan sulit tidur, kami punya bekal untuk memberikan penjelasan dan mengingatkan kebiasaan yang perlu diperbaiki,” ujar Nining Suningsih.
Menurut Nining, pemahaman mengenai tanda-tanda gangguan tidur juga penting karena tidak semua keluhan dapat diselesaikan hanya dengan menyarankan lansia untuk beristirahat.
“Kami juga mendapatkan pemahaman kapan lansia cukup diberikan edukasi dan kapan sebaiknya diarahkan ke Puskesmas. Ini menjadi bekal bagi kami ketika mendampingi lansia di masyarakat,” tuturnya.
51 Kader Ikuti Pre-test dan Post-test
Seluruh 51 kader mengikuti pre-test sebelum edukasi dan post-test setelah mendapatkan materi.
Hasil evaluasi menunjukkan bahwa rerata skor pengetahuan meningkat sebesar 0,90 poin, dari 12,16 sebelum edukasi menjadi 13,06 setelah edukasi.
Peningkatan juga terlihat pada proporsi kader dalam kategori pengetahuan baik, yang berdasarkan hasil analisis meningkat dari 66,7 persen menjadi 79,6 persen.
Temuan tersebut memberikan gambaran bahwa secara deskriptif terdapat peningkatan pengetahuan kader setelah kegiatan edukasi.
Namun, hasil tersebut merupakan perubahan secara deskriptif dan belum digunakan untuk menyatakan bahwa edukasi menghasilkan peningkatan yang signifikan secara statistik. Analisis inferensial perlu didasarkan pada data berpasangan 51 kader dan uji statistik yang sesuai.
Libatkan Mahasiswa
Dalam kegiatan tersebut, tim pemateri juga didampingi mahasiswa tingkat III Program Studi D3 Keperawatan STIKep PPNI Jawa Barat, yakni Dendi Rustiawan, Refli Ariansyah, Salya Nabilla Achmad, dan Resa Syaripatul Ajijah.
Keterlibatan mahasiswa menjadi bagian dari pembelajaran berbasis pengalaman. Mahasiswa memperoleh kesempatan menerapkan pengetahuan dan keterampilan keperawatan melalui interaksi langsung dengan masyarakat.
Kolaborasi perguruan tinggi dan Puskesmas ini sekaligus menjadi bagian dari implementasi tridarma perguruan tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat.
Sleep Better, Age Better
Melalui program “Kader Peduli Tidur Sehat Lansia”, STIKep PPNI Jawa Barat bersama FIK UI dan Puskesmas Padamukti mendorong kader untuk meneruskan edukasi kepada lansia dan keluarga.
Kader diharapkan mampu membantu lansia menerapkan sleep hygiene, mengenali masalah tidur, serta menghubungkan lansia dengan tenaga kesehatan apabila ditemukan keluhan yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
Pesan kegiatan dirangkum dalam slogan “Sleep Better, Age Better”—tidur lebih baik untuk mendukung proses penuaan yang lebih sehat.
Tidur berkualitas bukan sekadar waktu untuk beristirahat. Bagi lansia, tidur sehat merupakan salah satu fondasi untuk tetap sehat, aktif, mandiri, dan bahagia.



