Dari McKinsey hingga Pertamina, SBM ITB Kupas Transformasi Organisasi Berbasis Data

oleh -15 Dilihat
SBM ITB Buka Forum Diskusi Organizational Streamlining sebagai Strategi Keberlanjutan Bisnis
SBM ITB Buka Forum Diskusi Organizational Streamlining sebagai Strategi Keberlanjutan Bisnis

LIPUTAN BANDUNG –  Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB) membuka forum diskusi Organizational Streamlining sebagai strategi keberlanjutan bisnis melalui penyelenggaraan HCM Talks ke-5, Jumat (27/2/2026). Forum ini mempertemukan para praktisi dan akademisi dalam panel diskusi yang membahas dua topik utama, yakni Strategic Approaches to Organizational Streamlining serta Business and Organizational Streamlining di BUMN.

Mengusung tema besar “Navigating the Future of Human Capital: Business and Organizational Streamlining through Lean HR and People Analytics”, acara ini menghadirkan Martin Santoso, Associate Partner McKinsey & Company; Priyanto Rudito, Chairman of Nation Brand Team Kementerian Pariwisata sekaligus dosen; serta Mia Khrishna Anggaraini, SVP Business Transformation and Optimization Pertamina (Persero).

SBM ITB Buka Forum Diskusi Organizational Streamlining sebagai Strategi Keberlanjutan Bisnis
SBM ITB Buka Forum Diskusi Organizational Streamlining sebagai Strategi Keberlanjutan Bisnis

Diskusi diperkaya oleh pandangan akademik dari Prof. Dr. Ir. Utomo Sarjono Putro, M.Eng., Ketua Kelompok Keahlian Strategic Decision Making and Negotiation (KK DMN) SBM ITB, dan dimoderatori oleh Dr. rer. pol. Achmad Fajar Hendarman, S.T., M.S.M., anggota Kelompok Keahlian People and Knowledge Management (KK PKM) SBM ITB.

Dalam pembukaannya, Martin Santoso menegaskan bahwa organizational streamlining bukan sekadar soal memisahkan atau menggabungkan unit organisasi. “Organizational streamlining seharusnya menjadi enabler yang mendorong transisi menuju optimalisasi organisasi demi keberlanjutan bisnis, bukan hanya perubahan struktur semata,” ujarnya.

Baca Juga: Dies Natalis ke-22 SBM ITB: Tegaskan Peran Entrepreneurial Business untuk Pendidikan Berkelanjutan

Pandangan tersebut diperdalam oleh Priyanto Rudito melalui konsep Getting Better, Broader, and Bolder. Ia menjelaskan bahwa transformasi organisasi perlu dimulai dari pembenahan fundamental bisnis agar lebih kuat (getting better), sebelum diperluas (broader) dan diperbesar (bolder) secara strategis.

“Dalam konteks BUMN, transformasi mencakup pengelolaan pertumbuhan organik dan anorganik, yang harus ditopang oleh operational excellence serta implikasi nyata pada pengelolaan human capital,” jelasnya.

Dari sisi praktisi, Mia Khrishna Anggaraini membagikan pengalaman transformasi organisasi di Pertamina, termasuk perjalanan perubahan struktur dari sebelum 2018 hingga pembentukan holding dan subholding.

“Streamlining menekankan pendekatan strategis. Fondasi harus diperbaiki terlebih dahulu agar organisasi menjadi lebih kuat, lalu berkembang menjadi lebih besar dan lebih luas. Ini bukan sekadar aksi korporasi, melainkan upaya menyatukan seluruh pemangku kepentingan agar tetap stabil dan adaptif,” ungkapnya.

Menanggapi diskusi tersebut, Prof. Utomo Sarjono Putro merumuskan beberapa poin kunci yang dapat menjadi agenda riset dan kolaborasi ke depan. Ia menekankan bahwa transformasi berbasis data dan struktur bukanlah proses yang mudah, terutama di tengah tingkat ketidakpastian yang tinggi. Selain itu, sinergi antara akademisi dan BUMN dinilai krusial.

Baca Juga: SBM ITB mengundang Profesor dari Jerman Bagikan Tipis agar Perusahaan Dilirik Gen Z

“Akademisi memiliki kapasitas riset dan metodologi, sementara praktisi BUMN memiliki pengalaman dan konteks nyata. Kolaborasi keduanya dapat melahirkan inovasi yang berdampak,” ujarnya.

Sementara itu, Achmad Fajar Hendarman menyoroti pentingnya aspek manusia dalam proses transformasi. Menurutnya, perubahan mindset membutuhkan waktu dan pengelolaan resistensi yang matang.

“Tantangannya bukan sekadar bagaimana memangkas struktur, tetapi bagaimana memperbaiki proses bisnis. Transformasi tidak hanya bersifat struktural, melainkan juga menyangkut pola pikir dan persepsi seluruh pemangku kepentingan,” jelasnya.

Forum diskusi ini menyimpulkan bahwa organizational streamlining merupakan proses transisi strategis yang tidak berfokus pada pengurangan manfaat karyawan, melainkan pada optimalisasi proses bisnis dan pengembangan model operasional baru. Dengan pendekatan tersebut, perusahaan diharapkan mampu menciptakan keberlanjutan bisnis dan nilai jangka panjang secara berkelanjutan.