LIPUTAN BANDUNG- Pusat Studi Komunikasi Kesehatan bersama Program Studi Doktor Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran menyelenggarakan seminar akademik bertajuk “HypnoDent: Transformasi Neurofisiologis, Algoritma Akustik, dan Proses Biologis Transduksi dalam Komunika Hypnodontik”, Rabu (17/6/2026), di Ruang Sidang Promosi Doktor Fikom Unpad, Jatinangor. Seminar yang berlangsung pukul 10.00–13.00 WIB tersebut menjadi ruang perjumpaan berbagai disiplin ilmu untuk menjahit kembali semangat kolaborasi antarprofesi dalam pengembangan komunikasi kesehatan berbasis bukti ilmiah.
Kegiatan seminar ini menghadirkan Dr. Gilang Yubiliana, drg., M.Kes., CH-t.x, FISDPH, FISPD, staf pengajar Departemen Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat dan Pencegahan FKG Unpad, Ketua Tim Peneliti Hypnosis Unpad, sekaligus Salah satu Founder HypnoDent, sebagai pembicara utama. Seminar dibahas oleh Dr. Dewanto Putra Fajar, S.Sos., M.Si., dosen Ilmu Komunikasi Universitas Brawijaya dan dimoderatori oleh Retasari Dewi, M.I.Kom, dosen Humas Fikom Unpad. Kegiatan juga diselenggarakan secara daring melalui Zoom dan disiarkan secara langsung melalui kanal Youtube DIVIA TV Unpad.

Komunikasi sebagai Intervensi Neurofisiologis
Dalam pemaparannya, Dr. Gilang menjelaskan bahwa komunikasi terapeutik tidak hanya berfungsi sebagai proses penyampaian informasi atau pembentukan pemahaman pasien. Dalam konteks komunika hipnodontik, pesan verbal, pola intonasi, stimulus akustik, dan visual dapat dirancang sebagai bagian dari intervensi terstruktur yang memengaruhi perhatian, persepsi, emosi, serta respons fisiologis pasien.
Gelombang suara diterima oleh sistem pendengaran perifer, dikonversi menjadi sinyal neural, kemudian diteruskan ke berbagai bagian otak yang berperan dalam pemrosesan auditori, emosi, perhatian, dan respons stres. “Komunikasi kesehatan yang efektif tidak berhenti pada transfer kognisi. Komunikasi dapat dirancang untuk membantu membentuk kondisi neurofisiologis pasien secara terukur,” jelas Dr. Gilang.
HypnoDent dikembangkan dengan mengintegrasikan bahasa sugestif, rekayasa akustik, stimulus visual berbasis Virtual Reality Dental Hypnosis, serta pengukuran objektif melalui aktivitas listrik otak dan biomarker fisiologis.
Baca Juga: Pusdi Komunikasi Kesehatan Unpad Bahas Kesehatan dalam Berbagai Lensa Budaya
Dalam penelitian yang dipaparkan, respons relaksasi diamati melalui perubahan aktivitas gelombang otak, terutama peningkatan aktivitas Alpha dan Theta serta penurunan aktivitas Beta. Pola tersebut merepresentasikan kondisi relaksasi dan atensi terfokus, dengan pasien tetap berada dalam keadaan sadar dan mampu merespons komunikasi selama prosedur berlangsung.
Temuan penelitian mengenai perubahan kadar kortisol saliva juga dipresentasikan sebagai salah satu indikator objektif respons stres. Data tersebut memperlihatkan adanya penurunan kadar kortisol pada kelompok yang menerima komunika hipnodontik, sedangkan perubahan pada kelompok kontrol tidak menunjukkan perbedaan bermakna.
Namun demikian, temuan-temuan tersebut tetap ditempatkan sebagai bagian dari proses pengembangan bukti ilmiah yang memerlukan validasi melalui penelitian lanjutan dengan desain, jumlah subjek, dan konteks klinis yang lebih luas.
Integrasi Bahasa, Akustik, dan Teknologi Imersif
Seminar turut membahas bagaimana efektivitas komunikasi terapeutik tidak hanya ditentukan oleh isi pesan, tetapi juga oleh karakteristik suara yang menyertainya.
Parameter seperti intonasi, ritme, frekuensi, stabilitas spektral, dan pola pengulangan dapat memengaruhi proses penerimaan stimulus oleh pasien. Oleh karena itu, pengembangan HypnoDent melibatkan kajian lintas disiplin yang mempertemukan ilmu kedokteran gigi, komunikasi kesehatan, ilmu perilaku, neurofisiologi, fisika akustik, dan teknologi informasi.
Integrasi teknologi Virtual Reality memberikan stimulus visual yang imersif sehingga pasien dapat mengalihkan perhatian dari lingkungan klinis dan membangun pengalaman sensorik yang lebih menenangkan.
Kombinasi stimulus verbal, auditori, dan visual tersebut menjadi dasar pengembangan protokol komunika hipnodontik yang terstruktur dan dapat dievaluasi secara ilmiah.
HypnoDent dalam Perspektif Komunikasi biologi
Sebagai pembahas, Dr. Dewanto Putra Fajar menempatkan HypnoDent dalam perspektif komunikasi biologi, yaitu pendekatan yang memandang komunikasi tidak hanya sebagai proses sosial dan simbolik, tetapi juga sebagai proses yang berinteraksi dengan sistem biologis manusia.
Menurutnya, bahasa dan sugesti dapat memengaruhi perhatian, interpretasi terhadap stimulus, kondisi emosional, serta aktivitas neural dan hormonal yang selanjutnya berkontribusi terhadap perubahan perilaku pasien. “Hipnotis menunjukkan bahwa komunikasi memiliki kekuatan besar, tidak hanya untuk mengubah perilaku sosial, tetapi juga berpotensi memengaruhi kondisi biologis,” ujar Dr. Dewanto.
Ia menambahkan bahwa pengalaman nyeri tidak hanya ditentukan oleh stimulus pada jaringan tubuh, melainkan juga oleh proses kompleks di dalam otak. Ketika komunikasi mampu memengaruhi perhatian, ekspektasi, dan interpretasi pasien, komunikasi tersebut juga berpotensi berperan dalam modulasi persepsi nyeri melalui mekanisme kontrol neural dari atas ke bawah.
Perspektif tersebut membuka ruang penelitian baru yang mempertemukan ilmu komunikasi dengan kedokteran gigi, psikologi, pendidikan, kesehatan masyarakat, ilmu saraf, dan teknologi kesehatan.
Menuju Sistem HypnoDent yang Neuroadaptif
Pada sesi selanjutnya, dipaparkan pula arah pengembangan HypnoDent menuju sistem yang lebih personal dan neuroadaptif. Integrasi kecerdasan artifisial berpeluang digunakan untuk mengembangkan protokol neuroakustik yang mampu menyesuaikan karakteristik suara berdasarkan profil, respons, dan tingkat suseptibilitas setiap pasien.
Pengembangan sistem closed-loop EEG-directed audio juga diproyeksikan memungkinkan stimulus akustik berubah secara waktu nyata mengikuti dinamika aktivitas gelombang otak pasien. Pendekatan tersebut diharapkan dapat mendukung intervensi yang lebih presisi, personal, dan responsif terhadap kondisi individual pasien.
Meski demikian, pengembangannya membutuhkan penelitian lebih lanjut, validasi klinis, tata kelola data, pengujian keamanan, serta perhatian terhadap aspek etik dan regulasi teknologi kesehatan.
Ruang Diseminasi dan Kolaborasi Keilmuan
Seminar ini tidak hanya menjadi forum penyampaian hasil penelitian, tetapi juga menjadi bagian dari proses diseminasi ilmiah yang mempertemukan gagasan, data, kritik, dan perspektif dari berbagai bidang keilmuan.
Dialog antara kedokteran gigi dan ilmu komunikasi menunjukkan bahwa persoalan kesehatan yang kompleks tidak dapat dikembangkan secara sektoral. Diperlukan kolaborasi antarprofesi agar suatu inovasi tidak hanya unggul secara teknologi, tetapi juga kuat secara teoritis, metodologis, klinis, komunikatif, dan berorientasi kepada kebutuhan pasien. Melalui kegiatan ini, Universitas Padjadjaran kembali menegaskan semangat Unpad Ngahiji, Unpad Kahiji, dengan mendorong kolaborasi keilmuan yang menghasilkan inovasi berbasis bukti serta berpotensi memberikan manfaat bagi masyarakat.






