Pusdi Komunikasi Kesehatan Unpad Bahas Kesehatan dalam Berbagai Lensa Budaya

oleh -8 Dilihat
Pusdi Komunikasi Kesehatan Unpad Bahas Kesehatan dalam Berbagai Lensa Budaya
Pusdi Komunikasi Kesehatan Unpad Bahas Kesehatan dalam Berbagai Lensa Budaya

LIPUTAN BANDUNG–  Studi Komunikasi Kesehatan (Pusdi Komunikasi Kesehatan) Universitas Padjadjaran menggelar presentasi tugas akhir mini riset mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi bertajuk “Sehat dalam Berbagai Lensa Budaya” di Ruang Sidang Doktor Pascasarjana Universitas Padjadjaran, Rabu (10/6/2026).

Kegiatan presentasi tugas akhir mini riset mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi bertajuk “Sehat dalam Berbagai Lensa Budaya” yang merupakan bagian dari perkuliahan yang diampu Prof. Dr. Jenny Ratna Suminar tersebut menghadirkan tiga penelitian mahasiswa yang mengkaji praktik kesehatan berbasis budaya dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Lampung, Jawa Timur, hingga Kalimantan Barat.

Pusdi Komunikasi Kesehatan Unpad Bahas Kesehatan dalam Berbagai Lensa Budaya
Pusdi Komunikasi Kesehatan Unpad Bahas Kesehatan dalam Berbagai Lensa Budaya

Prof. Jenny Ratna Suminar menjelaskan bahwa budaya memiliki peran penting dalam membentuk cara masyarakat memahami kesehatan, penyakit, dan proses penyembuhan.

“Komunikasi kesehatan tidak selalu hadir melalui media modern atau layanan kesehatan formal. Banyak nilai, simbol, dan praktik budaya yang sesungguhnya berfungsi sebagai media komunikasi kesehatan yang dekat dengan kehidupan masyarakat,” ujarnya.

Baca Juga: Pusdi Komunikasi Kesehatan Fikom Unpad Bahas Masa Depan Riset Neurofisiologi dalam Komunikasi Digital

Presentasi pertama disampaikan oleh Iqbal Al Bifary melalui penelitian berjudul “Piil Pesenggiri dalam Budaya Kesehatan Masyarakat Lampung Sai Bumi Ruwa Jurai.” Penelitian tersebut mengungkap bahwa falsafah Piil Pesenggiri tidak hanya menjadi pedoman moral masyarakat Lampung, tetapi juga memengaruhi perilaku kesehatan dan pengambilan keputusan terkait pengobatan.

Dalam paparannya, Iqbal menjelaskan bahwa masyarakat Lampung mengenal sistem biomedis, personalistik, dan naturalistik yang hidup berdampingan.

Di satu sisi masyarakat memanfaatkan layanan kesehatan modern, namun di sisi lain praktik pengobatan tradisional, penggunaan tanaman obat, serta peran tokoh adat dan agama masih memiliki pengaruh kuat dalam proses penyembuhan.

Presentasi kedua dibawakan oleh Anissa Feby Widya Putri dengan judul “Harmoni Jiwa dan Tradisi: Efek Plasebo dan Komunikasi Terapeutik dalam Ritual Ruwatan dari Jawa Timur.”

Penelitian ini menyoroti ritual Ruwatan sebagai bentuk komunikasi kesehatan tradisional yang memiliki fungsi psikososial dan terapeutik.

Anissa menjelaskan bahwa simbol-simbol budaya dalam ritual Ruwatan, seperti siraman, pemotongan rambut, musik gamelan, serta peran Dalang Ruwat sebagai komunikator utama, mampu membangun rasa tenang, harapan, dan dukungan sosial bagi individu yang menjalani ritual tersebut.

“Ruwatan tidak hanya dapat dipahami sebagai ritual spiritual, tetapi juga sebagai media komunikasi kesehatan berbasis budaya yang membantu individu memperoleh ketenangan psikologis dan makna positif terhadap proses penyembuhan,” jelasnya.

Sementara itu, Natalia Dennopa mempresentasikan penelitian berjudul “Sehat dari Lensa Budaya Melayu dan Dayak di Kalimantan Barat.”

Penelitian tersebut membahas praktik pengobatan Air Tawar pada masyarakat Melayu serta tradisi Besamsam pada masyarakat Dayak.

Menurut Natalia, kedua tradisi tersebut menunjukkan bagaimana masyarakat membangun konsep kesehatan melalui hubungan yang harmonis antara manusia, komunitas, alam, dan kekuatan spiritual.

Praktik Air Tawar dipahami sebagai media penyembuhan berbasis doa dan sugesti positif, sedangkan tradisi Besamsam menjadi mekanisme sosial budaya untuk menjaga keseimbangan lingkungan sekaligus melindungi masyarakat dari ancaman wabah penyakit.

Pada sesi penutupan, Prof. Jenny Ratna Suminar menyampaikan bahwa hasil mini riset mahasiswa menunjukkan pentingnya pendekatan komunikasi kesehatan yang sensitif terhadap budaya lokal.

Menurutnya, berbagai praktik kesehatan tradisional yang masih hidup di masyarakat dapat menjadi sumber pengetahuan berharga dalam pengembangan model komunikasi kesehatan yang lebih inklusif dan kontekstual.

Kegiatan ini sekaligus memperkuat komitmen Pusdi Komunikasi Kesehatan Universitas Padjadjaran dalam mendorong pengembangan riset komunikasi kesehatan berbasis kearifan lokal sebagai kontribusi bagi peningkatan kesehatan masyarakat Indonesia. (NL)