Mahasiswa Unpad Padukan Teknologi dan Tradisi Lewat Pemanggang Kemplang INTAN

oleh -13 Dilihat
Mahasiswa Unpad memadukan teknologi dan tradisi melalui INTAN, alat pemanggang kemplang tunu otomatis yang tetap menggunakan bara.
Mahasiswa Unpad memadukan teknologi dan tradisi melalui INTAN, alat pemanggang kemplang tunu otomatis yang tetap menggunakan bara.

LIPUTAN BANDUNG – Modernisasi tidak selalu berarti mengganti seluruh proses tradisional dengan teknologi. Prinsip tersebut diterapkan mahasiswa Universitas Padjadjaran (Unpad) melalui pengembangan Inovasi Termal Adaptif Nusantara (INTAN), sebuah perangkat pemanggang otomatis untuk membantu produksi kemplang tunu.

Kemplang tunu memiliki karakter yang tidak dapat dilepaskan dari proses pemanggangan menggunakan bara. Aroma dan cita rasa hasil pembakaran menjadi bagian dari identitas produk. Karena itu, tim mahasiswa Unpad tidak mengganti metode tersebut, melainkan menambahkan teknologi untuk membantu proses yang selama ini dilakukan secara manual.

INTAN dikembangkan melalui Program Kreativitas Mahasiswa Karya Inovatif (PKM-KI). Perangkat ini menggunakan mikrokontroler dan dilengkapi sistem pembalikan otomatis, pemantauan suhu, layar kontrol, serta pengaturan proses pemanggangan.

Mahasiswa Unpad memadukan teknologi dan tradisi melalui INTAN, alat pemanggang kemplang tunu otomatis yang tetap menggunakan bara
Mahasiswa Unpad memadukan teknologi dan tradisi melalui INTAN, alat pemanggang kemplang tunu otomatis yang tetap menggunakan bara

Pengembangan inovasi tersebut berangkat dari kondisi produksi di Kabupaten Empat Lawang, Sumatera Selatan. Dalam proses manual, operator perlu membolak-balik kemplang secara terus-menerus. Pekerjaan tersebut bukan hanya melelahkan, tetapi juga membuat operator harus berada dalam paparan panas dari bara.

Ketika suhu bara mengalami perubahan, hasil pemanggangan juga dapat terpengaruh. Kemplang yang berada pada bagian tertentu bisa lebih cepat matang, sedangkan bagian lainnya membutuhkan waktu lebih lama. Jika tidak dikontrol dengan baik, risiko produk gosong juga dapat meningkat.

Kondisi itu menjadi alasan tim mengembangkan sistem yang dapat membantu proses pemanggangan berlangsung lebih konsisten. Dengan pembalikan otomatis, pekerjaan repetitif operator dapat dikurangi. Sementara itu, sistem pemantauan suhu membantu memberikan informasi mengenai kondisi pemanggangan.

Baca Juga: Kemenag Jabar dan Fikom Unpad Gelar Optimalisasi Kehumasan dalam Digitalisasi Tata Kelola Pemerintahan

Ketua tim, Irfan Fransisco, menyebut INTAN tidak dibuat untuk menghilangkan karakter tradisional kemplang tunu. Teknologi justru digunakan sebagai pendukung agar proses produksi dapat dilakukan dengan lebih mudah diawasi.

Proyek tersebut dikerjakan selama Juni hingga Agustus 2026 oleh tim lintas bidang dari Unpad. Anggotanya adalah Irfan Fransisco dan Iwan Ridwan Ramdani dari Prodi Perpustakaan dan Sains Informasi, Ahmad Faruq dari Teknik Informatika, Daryl Yudhopatria dari Fisika, serta M. Rafi Aulia Amrullah dari Teknologi Pangan. Tim didampingi Andri Yanto, S.Sos., M.I.Kom.

Selain perangkat INTAN skala penuh, proyek tersebut juga menghasilkan dokumen teknis produk, video demonstrasi dan pengoperasian, media publikasi, serta Hak Cipta yang telah diterbitkan.

Pengembangan INTAN menjadi gambaran bagaimana inovasi dapat dimulai dari persoalan sederhana yang dihadapi pelaku usaha. Ketika pekerjaan manual terlalu berat atau hasil produksi sulit dibuat konsisten, teknologi dapat digunakan untuk memberikan solusi yang lebih terukur.

Bagi produk pangan tradisional, pendekatan tersebut juga dapat menjadi jalan untuk meningkatkan daya saing tanpa menghilangkan identitas. Tradisi tetap dipertahankan, sementara teknologi membantu membuat proses produksi lebih efisien.

Tim Unpad selanjutnya akan menyempurnakan sistem INTAN, melakukan standardisasi komponen, menguji alat dalam berbagai kondisi produksi, dan menjajaki kolaborasi dengan sentra produksi maupun pemangku kepentingan.