Bidan Neng Ira Ingatkan Bahaya ‘Kenyang Palsu’ Akibat Jajanan Manis yang Picu Gizi Buruk Anak

oleh -9 Dilihat
Bidan Neng Ira Ingatkan Bahaya 'Kenyang Palsu' Akibat Jajanan Manis yang Picu Gizi Buruk Anak
Bidan Neng Ira Ingatkan Bahaya 'Kenyang Palsu' Akibat Jajanan Manis yang Picu Gizi Buruk Anak

LIPUTAN BANDUNG – Kebiasaan orang tua memberikan jajanan manis untuk menenangkan anak yang rewel memicu fenomena “kenyang palsu” yang menjadi salah satu penyebab utama gizi buruk. Kondisi ini diperparah oleh salah kaprah menahun terkait pemberian kental manis sebagai pengganti susu harian.

Bidan asal Bandung, Bidan Neng Ira, menjelaskan bahwa konsumsi makanan atau minuman tinggi gula memberikan lonjakan energi instan yang menipu saraf otak anak, sehingga rasa lapar mereka hilang seketika. Akibatnya, anak akan menolak saat diberikan makanan utama yang padat gizi.

“Anak-anak kecil itu biasanya lebih senang jajan yang manis-manis. Nah, sedangkan kalau misalkan sudah dikasih yang manis, pasti anak itu merasa kenyang, merasa cukup makannya. Kalau misalkan kita kasih makanan pun, anak tersebut pasti menolak karena udah kenyang duluan,” ujar Bidan Neng Ira.

Baca Juga: Guru Honorer di Ujung Kelas: Mendidik Tanpa Kepastian di Tengah Janji yang Tak Kunjung Datang

Ketika anak menolak makan dan orang tua membiarkan jam makan utama lewat begitu saja, anak akan kehilangan pasokan nutrisi esensial harian. Jika pola pengasuhan ini terus berulang, grafik berat badan anak akan stagnan atau menurun hingga menyeret mereka ke dalam kondisi malnutrisi.

Faktor ekonomi dan pengaruh iklan masa lalu membuat sebagian besar masyarakat masih menganggap kental manis sebagai opsi susu ekonomis. Bidan Neng Ira menegaskan bahwa anggapan tersebut keliru karena kental manis bukanlah produk susu untuk pertumbuhan.

“Kental manis itu sebenarnya bukan susu yang dikentalkan, melainkan gula yang diberikan aroma susu. Kandungan utamanya sirup gula, sementara kandungan kalsium, proteinnya, atau gizi yang lainnya itu malah gak ada. Jadi kalau kental manis ini sebenarnya buat topping aja,” tegasnya.

Konsumsi kental manis dan gula berlebih secara harian membawa risiko kesehatan jangka panjang yang fatal bagi anak. Dampak buruknya meliputi obesitas, kerusakan ekstrem pada pertumbuhan gigi, hingga risiko penyakit diabetes di usia muda.

Untuk mengatasi lingkaran setan ini, Bidan Neng Ira mengimbau orang tua untuk menerapkan pola asuh yang tegas, termasuk menghentikan kebiasaan memberi makan anak sambil bermain gadget karena dapat memperlambat proses mengunyah dan mengurangi fokus makan.

Baca Juga: Unpad Gandeng Kemenag Jabar Perkuat Kompetensi Guru dan Madrasah Lewat Berbagai Program Pengembangan

Di sisi lain, ia menekankan bahwa pemenuhan gizi seimbang bagi anak tidak harus mahal. Orang tua dapat memanfaatkan bahan makanan lokal dan musiman yang harganya ramah di kantong namun memiliki kandungan nutrisi yang tinggi.

“Mendingan ini aja, kalau misalkan buat gizi anak bisa aja kasih telur, tempe, tahu, ati ayam, dan ikan-ikanan. Atau bahkan kalau di rumah ada daun kelor, boleh tuh disayur atau dibikinin kue. Itu malah lebih baik buat anak karena ada tambahan protein nabatinya,” pungkasnya.